Pages

Rabu, 26 Februari 2014

(Jalan Sendirian) Bandung


Berawal dari sekedar iseng mencari tiket promo kereta api menuju Bandung. Sempat pesimis kalau seat promo sudah habis untuk weekend. Tak disangka untuk perjalanan hari minggu sisa seat promo masih tersedia. Segera saya booking tiket Argo Parahyangan seharga Rp. 40000 untuk relasi Gambir - Bandung PP.

Argo Parahyangan
Argo Parahyangan yang saya tumpangi tiba di Bandung pukul 11.17 WIB. Sedangkan kereta pulang saya berangkat dari Bandung pukul 11.55 WIB. Itu berarti saya hanya punya waktu 38 menit saja untuk berjalan-jalan sekitar Stasiun Bandung. Dari Stasiun saya melangkah keluar melalui pintu selatan. Karena menurut penelusuran Gmap akan lebih dekat bila ingin menuju Jalan Braga. Jalan Braga merupakan tujuan pertama saya. Karena memang jaraknya yang hanya sekitar 900m saja dari Stasiun Bandung.

Stasiun Bandung
Cuaca Bandung hari ini cukup terik. Hal ini tentunya menghambat perjalanan saya. Menuju Braga melewati bunderan Viaduct Stasiun Bandung banyak sopir angkot atau ojek yang menawarkan jasanya. Bisa menghemat waktu memang. Tapi saya sudah tekankan pada diri bahwa saya akan berjalan kaki saja.

Menuju Braga
Tidak sampai 15 menit saya sudah sampai Braga. Sepanjang jalan banyak bangunan bergaya kolonial yang masih tertata apik. Rata-rata bangunan tersebut difungsikan sebagai cafe, restoran atau toko. Kondisi trotoar pun sangat ramah bagi para pejalan kaki. Bersih, nyaman dan minim asongan.

Jalan Braga
Selepas lewat Jalan Braga, saya terus menuju ke selatan. Kawasan Asia Afrika tujuan kedua saya. Perjalanan menuju Asia Afrika sekitar 600m. Selama perjalanan cuaca masih saja belum bersahabat. Matahari terlalu semangat menyinari.

Menuju Asia-Afrika
Tidak sampai 15 menit saya sudah sampai Asia Afrika. Bangunan-bangunan cantik masih menemani perjalanan saya. Tentu saja perhatian saya langsung tertuju kepada Gedung Konferensi Asia-Afrika. Bergeser ke timur sedikit saya menjumpai bangunan unik lain, Savoy Homan Bidakara Hotel.

Gedung Konferensi Asia-Afrika
Savoy Homan Bidakara Hotel
 Disini jarum jam sudah hampir pukul 12 siang. Saya berjalan lebih cepat kearah barat. Arah Masjid Agung Bandung. Banyak bangunan bergaya kolonial dikanan dan kiri. Namun karena sedang terburu-buru tingkat tinggi, tidak sempat ambil gambar. Hanya foto masjid agung dari luar yang berhasil diabadikan.


Menara Masjid Agung Bandung
Akhirnya saya putuskan naik ojek ke Stasiun dari depan masjid agung. Dasar sial setelah tengok dompet ternyata Tuanku Imam Bonjol sedang sendirian. Makin panik. Sepanjang mata memandang tidak ada ATM. Tanya dengan orang pinggir jalan akan keberadaan ATM. Saya diarahkan berjalan ke utara lewat Jalan Banceuy.

Perjalanan cari ATM
Setengah berlari saya bergerak. Namun ATM tidak terlihat juga. Jam sudah pukul 12.00 WIB pas. Adzan zuhur sudah berkumandang dari tadi. Akhirnya dengan berat hati saya pasrahkan tiket pulang. Pulang terpaksa naik bus. Karena tiket Argo Parahyangan keberangkatan sore sudah habis. Ada malam, tapi terlalu makan waktu.

Viaduct Stasiun Bandung
Tak sampai 15 menit saya setengah berjalan, akhirnya nampaklah yang dari tadi saya cari, ATM. Dan ternyata lokasinya persis didepan Viaduct Stasiun Bandung yang tadi sudah saya lewati. Sengaja lama-lama didalam bilik ATM, sekedar menikmati semburan AC. Hembusannya menentramkan tubuh yang telah dipaksa setengah berjalan sejauh 700m dari masjid agung ditemani semangatnya sinar matahari.

Menuju Braga (lagi)
Tidak ada tujuan pasti, akhirnya diputuskan untuk kembali ke Masjid Agung Bandung. Namun saya putuskan untuk berjalan memutar kembali melewati Braga dan Asia Afrika. Sekedar untuk bisa mengambil gambar lebih banyak. Karena tadi lewat sana dalam kondisi terburu-buru.

Plat name Jalan Braga
Kawasan Braga
Sampai di Braga kembali saya sekedar beristirahat di sebuah convenience store di sudut Jalan Braga. Sembari mencari informasi angkutan dari Masjid Agung Bandung menuju terminal Leuwipanjang. Tidak sampai 1 jam beristirahat, perjalanan saya lanjutkan kembali.

Istirahat di convenience store
Akhirnya setelah 15 menit berjalan tiba kembali di Asia Afrika. Segera menuju Masjid Agung Bandung lagi, namun kali berjalan dengan santai. Sehingga bisa mengambil gambar bangunan-bangunan cantik dikiri kanan jalan ini.

Kawasan Asia-Afrika

Kawasan Asia-Afrika
Sampai Masjid Agung Bandung saya segera masuk kedalam untuk menunaikan kewajiban. Selain itu momen ini juga saya gunakan untuk sekedar merebahkan tubuh. Juga menyelonjorkan kaki yang bila ditotal sudah berjalan sejauh kira-kira 4km.

Total perjalanan
Selesai istirahat saya segera menuju halte depan masjid agung untuk menunggu bus Damri menuju Leuwipanjang. Tarif bus Rp. 3000. Sampai Leuwipanjang saya segera menaiki salah satu bus menuju Kalideres yang akan mengantarkan saya pulang ke Jakarta.

Selasa, 25 Februari 2014

(Jalan Sendirian) Palembang


Mengawali hari dari sudut kota Palembang agak siang, sekitar pukul 09.30 WIB. Selanjutnya adalah sarapan, mandi, dan segera check out. Hingga akhirnya benar-benar memulai perjalanan dari hotel jam 11.00 WIB. Saya menginap di Hotel Indah yang terletak di Jalan Dempo 17 Ilir, tarif permalam untuk single bed Rp. 155000.

Sebetulnya tak ada niatan untuk "ngehotel", rencana sebelumnya adalah numpang tidur di Masjid Agung Palembang. Namun karena keterlambatan kereta yang sangat signifikan sampai Palembang terlalu malam. Maka pada saat melewati Masjid Agung Palembang suasana sudah sepi. Maka diputuskanlah untuk menghabiskan malam ditempat lain.

Kamar hotel
Hari ini cuaca Palembang kurang bersahabat. Begitu keluar dari hotel saya sudah disambut oleh jalan aspal yang basah dan disertai beberapa genangan. Palembang semalam hujan lebat rupanya. Matahari pun masih malu untuk menampakkan diri, padahal sudah 6 jam ia terlambat berseri. Mudah-mudahan hari ini tidak hujan.

Rute menuju Ampera
Tujuan pertama dan utama hari ini adalah maskot kota Palembang yang paling terkenal, Jembatan Ampera. Untuk menuju kesana dari hotel cukup berjalan kaki, sekitar 1,5 km melewati Jl. Kolonel Atmo dan Jl. Jendral Sudirman. Kondisi trotoar sepanjang jalan Jendral Sudirman cukup nyaman untuk para pejalan kaki.

Masjid Agung Palembang
Setelah 15 menit berjalan terlihat lah sang maskot kota Palembang tersebut. Sebelum sampai disana saya menyempatkan diri untuk sekedar melihat-lihat di bunderan air mancur yang berada didepan Masjid Agung Palembang. Tak ada apa-apa disini, jadi saya langsung melangkah menuju tujuan awal.

Langit masih berwarna kelabu begitu saya sampai Ampera. Disini banyak yang menawarkan jasa perahu untuk menuju Pulau Kemaro atau hanya menyusuri Sungai Musi. Sampai akhirnya langkah saya terhenti di kolong Ampera. Sekedar beristirahat dan mengambil gambar.

Dermaga
Puas mengambil gambar dari sudut tersebut, kaki saya kembali melangkah dengan mantap sembari menolak dengan halus beberapa tawaran para penyedia jasa perahu tersebut. Bergerak ke barat menyusuri pinggiran Sungai Musi. Sampai akhirnya terhenti didepan gerbang sebuah bangunan yang cukup unik.

Gerbang Museum SMB II
Ternyata bangunan itu adalah Museum Sultan Mahmud Badaruddin II. Kaki saya pun tertarik untuk mengunjunginya. Namun ini adalah hari minggu dimana setiap hari minggu museum ini tutup. Jadi saya hanya melihat-lihat di luar museum saja. Tak banyak yang bisa diceritakan dari Museum Sultan Mahmud Badaruddin II ini.

Museum SMB II
Lanjut berjalan kearah barat, ada semacam alun-alun atau public area di pinggir Sungai Musi. Berhubung hari masih siang maka belum banyak orang yang menghabiskan waktu disini. Sesekali masih saja ada tawaran para penyedia jasa perahu datang. Namun semuanya saya tolak, karena saya harus mengunjungi Benteng Kuto Besak yang berjarak hanya selemparan batu dari pinggir Sungai Musi.

Tepi Musi
Benteng Kuto Besak merupakan bangunan yang katanya dulunya merupakan pusat pemerintahan Kesultanan Palembang. Macam istana atau keraton sepertinya. Namun sekarang digunakan sebagai markas Kodam Sriwijaya. Karena sudah jadi area militer maka tidak sembarang orang bisa masuk, termasuk saya. Jadi diputuskan untuk melihat-lihat dan mengambil gambar dari luar benteng saja.

BKB
Kembali kolong Ampera di tepi Sungai Musi, waktu sudah menunjukkan pukul 14.00 WIB. Agak bingung mau kemana lagi. Sampai akhirnya saya terima tawaran salah satu penyedia jasa perahu untuk berkunjung ke Pulau Kemaro. Mereka menawarkan tarif Rp. 120000 / perahu PP, namun karena saya pergi sendiri saya tolak tawaran itu. Masih terlalu mahal bagi saya.

Tepi Musi
Saya disarankan untuk menunggu bila saja ada rombongan yang ingin menuju kesana, sehingga ongkos perahu bisa lebih murah. Setelah setengah jam lebih menunggu akhirnya ada rombongan 1 keluarga dari Prabumulih yang hendak kesana. Saya pun dipersilahkan bergabung. Tak perlu buang waktu saya segera melangkahkan kaki naik ke atas perahu. Berangkat ke Pulau Kemaro.

Rumah tepi Musi
Perahu yang saya tumpangi bukanlah perahu cepat. Jadi waktu tempuh akan lebih lama. Goyangan di atas perahu sendiri lebih terasa. Untungnya saya tidak mabuk. Diperjalanan kami melewati pabrik Pupuk Sriwijaya, dan juga perkampungan nelayan di tepian Sungai Musi. Banyak hal unik yang saya temui ditepi sungai ini, mulai dari pom bensin terapung, hingga rambu parkir untuk perahu.

Pulau Kemaro
Sekitar 15 menit berjalan, tampaklah Pulau Kemaro, beserta pagodanya yang menjadi daya tarik utama. Pagoda tersebut memiliki 9 lantai, yang sayangnya tertutup untuk umum, sehingga pengunjung tidak diperkenankan naik ke lantai atas. Menurut seorang pengunjung, pagoda hanya dibuka pada perayaan Cap Go Meh, dan itupun hanya untuk kalangan terbatas.

Pagoda Pulau Kemaro
Setelah selesai dengan pagoda, saya berkeliling untuk melihat-lihat isi pulau. Namun tak ada yang menarik disini selain pagoda tersebut. Maka saya putuskan untuk kembali menuju dermaga. Di dermaga sekedar mengobrol dengan bapak supir perahu, tak lupa membayar ongkos sebesar Rp. 40000 untuk pulang pergi.

Pabrik Pusri di kejauhan
Setelah menunggu sekitar setengah jam, akhirnya keluarga dari Prabumulih tiba di dermaga. Ini tandanya kami harus meninggalkan Pulau Kemaro dan balik menuju Ampera. Cuaca semakin gelap. Langit yang tadinya kelabu berubah menghitam. Benar saja, di tengah perjalanan hujan turun dengan lebatnya. Akibatnya sampai Ampera jaket saya terasa lembab cenderung basah.

Dermaga pasca hujan
Karena gerimis masih turun, maka diputuskan untuk menuju kolong Ampera lagi. Kebetulan disana ada halte Trans Musi. Saya bertanya kepada petugas Trans Musi untuk menuju ke Gelora Jakabaring. Namun ternyata transportasi kesana menggunakan jasa layanan ini sangat tidak efisien, butuh 3 kali transit. Maka niat ke Gelora Jakabaring saya urungkan.

Pasar 16 Ilir
Gerimis akhirnya mereda. Saya melangkahkan kaki menuju Pasar 16 Ilir sekedar untuk membeli pempek mentah untuk oleh-oleh. Setelah mengelilingi pasar saya tidak menemukan pedagang pempek mentah, atau saya yang kurang teliti mencari. Hingga akhirnya saya putuskan untuk menuju Masjid Agung Palembang. Sudah masuk waktu ashar.

Sebelum saya memasuki masjid saya sekedar berkeliling sembari mencari ATM, dan penjual pempek basah tentunya. Ternyata saya berjalan terlalu jauh, saya menemukan ATM di Hotel Graha Sriwijaya. Dan untungnya tak jauh dari situ ada yang jual pempek mentah. Harganya paling murah @ Rp. 4000, saya pun membeli 30 pieces untuk dibawa pulang.

Perjalanan mencari pempek
Hari sudah semakin sore, saya pun mengurungkan niat menuju Masjid Agung Palembang. Langsung saja menuju stasiun. Saya menggunakan becak sampai bunderan dekat Ampera dengan tarif Rp. 10000, dan dilanjut angkot warna kuning jurusan Kertapati dengan tarif Rp. 3000. Setengah jam kemudian sampai depan Stasiun Kertapati. Saya segera mencari rumah makan.

Stasiun Kertapati
Setelah perut terisi dan menyiapkan bekal untuk makan di kereta, saya segera memasuki area stasiun. Kereta yang saya tumpangi berangkat pukul 20.00 WIB, jarum jam masih pukul 17.00 WIB. Maka saya menunggu kurang lebih 3 jam sampai Kereta Limex Sriwijaya diberangkatkan menuju Tanjung Karang untuk mengantar saya pulang.

Jumat, 21 Februari 2014

(TRIP REPORT) KA S8 Rajabasa



Berangkat dari rumah sekitar pukul 20.00 WIB menuju Stasiun Gambir. Sampai Stasiun Gambir langsung menuju pool bus Damri jurusan Tanjung Karang. Bus Damri yang saya tumpangi berangkat tepat pukul 22.00 WIB. Tarif bus sampai Stasiun Tanjung Karang untuk kelas bisnis Rp. 135.000.

Bus Damri, Gambir - Tj Karang PP

Singkat cerita sekitar pukul 07.30 WIB bus sampai di Stasiun Tanjung Karang. Belum sempat mandi, saya langsung check in dan menuju peron. KA S8 Rajabasa sudah menunggu dijalur 4. Saya duduk di K3AC-4 kursi 22E.




Stasiun Tanjung Karang

Kereta diberangkatkan tepat pukul 08.30 WIB. Diawal perjalanan KA Rajabasa okupansi tidak terlalu penuh. Perjalanan kereta pun berjalan dengan lancar, walaupun harus berhenti di beberapa stasiun untuk "menunggu" Babaranjang maupun menaikkan penumpang.




Stasiun sepanjang perjalanan menuju Kotabumi


Tercatat KA S8 Rajabasa melewati di stasiun:
Tanjung Karang    0830
Labuan Ratu         0836 ls x Babaranjang
Rejosari               0850-0853
Tegineneng           0904-0905
Rengas                 0915-0916
Bekri                    0925-0927
Haji Pemanggilan  0936-0938
Sulusuban             0946-0947
Blambang             0956-0957
Kalibalangan        1006 ls
Candi Mas           1020-1026 x Babaranjang
Kotabumi             1034-1046 x KRD Seminung


Stasiun Kotabumi
Sampai Kotabumi kereta semakin penuh, di kereta yg saya naiki sendiri okupansinya 100%, bahkan lebih. Karena disini saya masih menjumpai penumpang tanpa tiket yang bisa naik karena "berdamai" dengan crew KA.

Kursi sebelah saya 22D yang harusnya kosong, karena tadinya itu milik teman saya yang batal ikut dan tiket itu tidak direfund. Karena ada beberapa orang yang tidak dapat duduk maka kursi sebelah saya akhirnya saya tawarkan kepada seorang ibu yang membawa bayi.

Ditengah perjalanan karena perut yang belum diisi dari pagi akhirnya saya membeli nasi goreng seharga Rp. 15.000 dan sorenya beli lagi P*p M*e seharga Rp. 8.000. Kereta pun terus melaju dan berhenti dibeberapa stasiun masih untuk menaikkan penumpang.




Stasiun sepanjang perjalanan menuju Martapura
Tercatat melewati stasiun:
Cempaka                1055-1056
Ketapang                1145-1155
Negara Ratu            1212-1215
Tulungbuyut             1228-1247 x Babaranjang
Negeri Agung          1302-1316 x Babaranjang
Bambangan Umpu   1334-1336
Giham                     1350-1351
Tanjung Rajo           1356 ls
Way Tuba               1406-1408
Way Pisang             1426 ls
Martapura               1436-1443 x KA S7 Rajabasa

KMP KA S7 Rajabasa


KA jarak jauh ini hampir seperti KA lokal. Karena intensitas berhenti yang sangat sering, dan setiap berhenti selalu menaik atau turunkan penumpang. Walaupun saya kurang tahu apakah penumpang tersebut memiliki tiket atau cukup "berdamai".

Semakin sore pemandangan sepanjang jalur semakin epic. Kereta berjalan ditengah perkebunan sawit dimana sepanjang mata memandang yang terhampar hanyalah warna hijau, hijau dan hijau. Dengan background langit warna jingga bersama bulatan matahari yang sudah malas menyinari.

Lepas Martapura KA masih seperti semula, sering berhenti, mungkin untuk mengalah pada KA pengangkut emas hitam. Tercatat KA Rajabasa melewati stasiun:
Gilas                 1515 ls x Babaranjang, menyusul Babaranjang
Sepancar          1537 ls
Baturaja            1549-1559
Tiga Gajah        1605-1611
Blimbing Karya 1646 ls
Metur               1731-1732
Kotabaru          1744 ls
Pagargunung     1748-1751
???                   1800-1826 x Babaranjang, menyusul Babaranjang




Stasiun Baturaja dan Tiga Gajah
KA S8 Rajabasa ini tercatat 2 kali melakukan silang dengan Babaranjang dengan cara yang cukup unik. Jadi KA Rajabasa awalnya berhenti dibelakang Babaranjang. Selanjutnya menunggu silang Babaranjang dari arah berlawanan. Setelah Babaranjang dari arah berlawanan lewat, KA ini mundur sampai percabangan wesel, dan mengambil jalur lainnya untuk menyusul Babaranjang yang tadi berhenti di depan KA Rajabasa.

Hari mulai gelap, tak ada lagi yang bisa dilihat diluar. Mata pun juga semakin berat, gara-gara malamnya susah tidur dikarenakan kedinginan di bus Damri. Akhirnya lepas silang "unik" kedua tersebut mata tak bisa kompromi, terlelap.

Saya terbangun sekitar pukul 20.30 WIB, tak tahu lokasi persis di stasiun mana. Hal ini karena sebagian besar stasiun disini tidak dilengkapi lampu pada plat namenya. Disini KA Rajabasa silang dengan KA S1 Sriwijaya dan KA S3 Sindang Marga. Hampir 1 jam KA Rajabasa berhenti disini, sampai akhirnya pukul 21.26 diberangkatkan kembali.

Tercatat pukul 21.42 WIB KA S8 Rajabasa mengakhiri perjalanannya di Stasiun Kertapati. Dengan kata lain telat hampir 3 1/5 jam dari jadwal yang tertera. Setelah membersihkan diri saya langsung meninggalkan stasiun untuk menuju pusat kota Palembang menggunakan ojek.


Stasiun Kertapati

Disclaimer:
- Penunjukan waktu pada TR berdasar pada jam di handphone saya.
- Untuk singkatan stasiun bila belum paham bisa lihat di http://id.wikipedia.org/wiki/Daftar_stasiun_kereta_api_di_Indonesia#I
- Mohon maaf apabila ada kata-kata penulisan yang kurang berkenan.

Popular posts

Iklan